Tidak Mengerti atau (Mungkin) Tidak Ingin Mengerti (?)

Posted: October 14, 2011 in Just my think, Poem

Tahukah kau?
Betapa bahagianya diri ini kala kau lepas status itu
Berbilang bulan
Berbilang tahun

Aku hampir yakin kau telah berubah
Bertaubat
Mendekap hidayah-Nya

Namun?

Kau runtuhkan semua
Statusmu kembali berganti
Dan aku pun kembali kecewa

Semoga Allah memberimu hidayah, Kawan….

Ada rasa sedih dan kecewa setiap kali menerima kabar seseorang ‘jadian’. Sebaliknya, ada perasaan bahagia kala seorang berstatus ‘single’. Bukan berduka atas kebahagiaan orang lain, maupun bahagia atas kesedihan orang lain. Bukan sama sekali.
Mereka bukanlah orang yang sama sekali buta akan hukum Allah. Aku yakin mereka tahu betul apa hukumnya. Tahu betul mengapa perbuatan tersebut dilarang. Akan tetapi, aku tidak tahu apa mereka benar-benar paham dan menerimanya atau tidak.

Nikmat, tapi…..

Disayang itu nikmat, tapi jika Allah benci, apa masih terasa nikmat?
Diperhatikan itu menyenangkan, tapi jika mengundang murka Allah apa masih terasa menyenangkan?
Diantar jemput itu nyaman, tapi jika terminal akhirnya bukan surga, apa masih nyaman?

Tidak cukupkah kasih sayang dari orang tua dan keluargamu sehingga kau harus mencarinya di tempat lain?
Tidak cukupkah perhatian dari sahabat-sahabatmu sehingga kau menemukannya di tempat lain?
Tidak cukupkah fasilitas yang diberikan oleh orangtuamu sehingga kau harus merepotkan orang lain?

Hm… sepintas, ‘jadian’ itu terdengar sebagai bentuk pelarian dari kurang kasih sayang dan perhatian…

Jadi, apa tujuannya?

Latihan hidup berumah tangga? Saling berkasih sayang? Saling perhatian? Latihan bertanggung jawab?

Bukankah itu semua bisa kau latih dengan posisimu sebagai anak dalam keluarga?
Atau sebagai kakak, adik, cucu, ponakan, atau bahkan sepupu?
Bukankah itu semua bisa kau latih dengan posisimu sebagai mahasiswa, kakak kelas, maupun adik kelas?
Bukankah itu semua bisa kau latih dengan posisimu sebagai teman atau sahabat?

Tanpa pandangan yang haram
Tanpa sentuhan yang dilarang
Dengan hati yang bersih

Tidak cukupkah itu semua?

Coba kau renungkan….

Jodohmu telah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kau lahir di dunia. Dia yang dipersiapkan untukmu. Kau yang dipersiapkan untuknya. Bukan yang lain.

Lalu, tegakah kau mengkhianatinya? Tegakah kau menzholiminya?

Kan dalam rangka mencari….

Lalu, mengapa tidak segera kau halalkan? Dengan begitu kau akan tahu kebenarannya.
Lalu, mengapa kau tunda? Untuk apa terus hidup dalam gelimang dosa?

Saling mengenal dulu kali….

Apakah ini satu-satunya cara? Bukankah ada cara yang jauh lebih baik dan diridhoinya?

Aku tidak bisa memaksamu, Kawan…

Juga sebaliknya, kau juga tidak bisa memaksaku untuk mengikuti prinsipmu, alur pikiranmu. Hanya do’a yang dapat kupanjatkan….


Advertisement
Comments
  1. Ummu Hasan says:

    …di sisi dunia bagian sini….
    yang biasa kulihat adalah berdua-duaannya dia dan dia. Dia perempuan dan dia laki-laki. lama2 kebal juga memandangnya dan menganggapnya biasa. Allah yahdik,, biasa atau binasa?
    Rasa ‘sudah biasa’ itu lama2 membuatku tak acuh. Tak acuh karna jengkel, dan tak bisa berbuat selain mengingkari dengan hati. Ah, selemah itukah kita?!
    Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- beliau berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

    …di sisi dunia bagian sana…
    yang biasa terjadi di depan matanya adalah orang2 yang menggadaikan agamanya demi sekantong sembako! Na’udzubillahi min dzalik.. Aku tak tahu bagaimana gemuruh di dadanya.
    Sedari dulu aku tak pernah lihat memang -semoga tidak akan pernah-, hanya mendengar ceritanya. Kondisinya sama, tak bisa berbuat apa2. Jika aku menjadi dia pun sepertinya akan sama. Kemungkaran paling besar ini, semoga kita tak pernah melihatnya. Jika nanti ada episode dimana kita melihatnya, aku harap kita punya segunung keberanian untuk mengingkarinya dengan derajat keimanan tertinggi. Aamiin

  2. nafsacha says:

    jadi bingung, beberapa teman sering sekali curhat ke nafsa tentang pacarnya..sejauh ini saya berusaha untuk tidak ikut campur, tapi kadang malah jadi suka kebawa suasana godain mereka. Astaghfirulloh, harusnya kan di ingkari ya mbak?
    *sedih*

    • zahra says:

      coba dimulai dari Nafsa dulu yang cerita tentang prinsip hidup Nafsa yang tidak pacaran. Mereka kan jadi penasaran kenapa Nafsa demikian. Nah, dari sharig2 itu Nafsa mulai menyampaikan pesan-pesan Allah dan Nabi Muhammad shallAllahu ‘alahi wa sallam mengenai hal ini..

      Semangat, Nafsa!

  3. nafsacha says:

    iya sih mbak, sedikit-sedikit saya sisipkan tentang prinsip hidup saya ketika kami berbincang. Semoga bisa istiqomah ya mbak, do’akan nafsa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s